Mentality

Kalau aku perhatikan dari tahun ke tahun kualitas mentalitas pelajar di Indonesia semakin menurun. Mentalitas pelajar saat ini rata-rata lembek, daya juang mereka rendah, dan rasa sopan santun juga rata-rata berkurang. Dulu waktu zaman orangtua ku masih sekolah, ketika dimarahi oleh guru si murid terima aja karena kalaupun mengadu ke orangtua yang dibela pasti gurunya bukan dia, alhasil sang anak jadi kena omelan dari guru dan orangtua. Bahkan ketika mereka dipukul tangannya pakai rotan gara-gara ga bisa menjawab pertanyaan dari guru pun, orangtua tetap membela sang guru, mereka kayak "Makanya belajar yang rajin biar bisa jawab pertanyaan ibu/pak guru!". Makanya rata-rata mental orang-orang terdahulu kuat. Tapi zaman sekarang, jangankan dipukul pakai rotan, dicubit aja ada murid berani memukul gurunya sampai meninggal padahal kesalahan ada pada murid itu yang tidak memerhatikan selama gurunya mengajar. Kurang ajar banget kan? Padahal guru adalah orangtua pengganti selama di sekolah yang seharusnya dihormati.

Selain itu sekarang juga lagi hangat-hangatnya berita tentang UNBK yang kata mereka (para pelajar) soal ujiannya susah karena berstandar internasional. Sebagian besar dari mereka mengeluh dan berkomentar negatif menyalahkan kemendiknas di setiap situs berita tentang UNBK. Kalau menurut aku sih, apa yang dilakukan kemendiknas tersebut memiliki tujuan yang baik. Mereka sedang berupaya step by step melakukan penyesuaian supaya kualitas pendidikan di Indonesia bisa meningkat sehingga mampu mengejar ketertinggalannya dari negara-negara maju, terutama negara-negara tetangga. Imo, sebenarnya soal-soal ujian (kecuali ujian seleksi masuk perguruan tinggi) di Indonesia tuh tergolong mudah ketimbang di negara maju, contohnya seperti Singapura (FYI, soal ujian di Singapura termasuk salah satu yang tersulit dikerjakan loh, cmiiw) karena dibuat hanya untuk menguji kemampuan menghafal saja, sementara kemampuan penalarannya ga begitu diuji, padahal yang dibutuhkan dalam realita adalah kemampuan bernalar, kemampuan di mana kita bisa berpikir untuk menyelesaikan permasalahan hidup, di mana jawabannya ga akan bisa kita temukan di dalam buku karena permasalahan setiap orang berbeda-beda. Oleh sebab itu, kemendiknas membuat soal-soal UNBK berstandar internasional yang memang lebih menekankan pada kemampuan penalaran dan pemahaman konsep dalam menjawabnya dan ini sesuai dengan tujuan dari UNBK itu sendiri yang memang diadakan untuk menguji kompetensi setiap pelajar di Indonesia. Meskipun demikian, untuk mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik, pemerintah juga harus memerhatikan proses belajar mengajarnya lalu disesuaikan juga dengan standar internasional. Aku paham sama mereka (para pelajar) yang mengeluhkan hal ini ketika mengerjakan soal UNBK karena selama belajar di sekolah, masih bisa ditemukan di mana guru ga masuk ke kelas untuk mengajar dan hanya memberikan mereka tugas yang mana tugasnya tidak berstandar internasional, kalaupun iya, mereka kebingungan untuk mengerjakannya karena sang guru tak ada di kelas. Akan tetapi, mereka juga sebaiknya tidak sepenuhnya menyalahkan situasi, terlebih lagi di era globalisasi seperti sekarang dengan teknologi yang sudah maju dan akses internet yang juga terjangkau terutama yang tinggal di perkotaan, jadi ga ada alasan lagi sih untuk mencari-cari pembenaran yang seperti itu karena hanya akan semakin menunjukkan kalau mereka itu pengecut dan bermental lemah. Ibaratnya, daripada mengutuk kegelapan bukankah lebih baik kita menyalakan lilin atau senter, kan? Jadi, daripada mengeluh, mengutuk, dan sumpah serapah lebih baik belajar lagi lebih serius supaya di ujian-ujian selanjutnya bisa memperoleh hasil yang memuaskan, terutama pelajar SMA / SMK / MA supaya bisa mengerjakan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi dan lolos di kampus yang diinginkan :)

Comments